Category: badminton

Hendra/Ahsan Melaju ke Final Kejurnas Bulu Tangkis

Pada gelaran Kejuaraan Bulu Tangkis Nasional (Kejurnas) reuni peraih gelar juara dunia tahun 2013 dan 2015, Hendra Setiawan serta Mohammad Ahsan memberikan hasil yang menggembirakan. Keduanya sukses melajut hingga babak final.

 

Tentu saja kehadiran kedua pasangan ganda putra terbaik di tanah air tersebut menjadi magnet yang cukup kuat bagi para pecinta olahraga ini di Pangkalpinang. Para penonton tak sabar untuk menantikan laga mereka di GOR Sahabudin.

 

Para penonton pun berdecak kagum akan performa Hendra/Ahsan pada semifinal. Melawan pasangan Lukhi Apri Nugroho/Tedi Supriadi, Hendra/Ahsan terus mendominasi permainan sejak pertandingan dimulai. Mereka pun menang dengan perolehan skor 21-10 dan 21-16 atas perwakilan dari Jawa Tengah/Jawa Barat tersebut.

 

Ahsan membuka rahasia kemenangan mereka adalah strategi tampil menekan dari awal. Menurutnya, jangan pernah memberikan kesempatan kepada lawan untuk dapat menyerang.

 

Sementara Hendra sendiri menilai bahwa laga semifinal tersebut terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya karena pada saat itu keduanya lebih siap dan konsentrasi. Hendra sendiri selama beberapa tahun terakhir ini berpasangan dengan pemain Malaysia dan lebih banyak berlaga di negeri jiran tersebut.

 

Pada laga final Hendra/Ahsan melawan pemain junior Pelatnas, Frengky Wijaya Putra/Sabar Karyaman Gutama, yang berhasil lolos setelah menundukkan lawannya sesama Pelatnas, Calvin Kristanto/Giovani Dicky Oktavan. Hendra/Ahsan berhasil meraih juara setelah mengalahkan lawannya dalam waktu 28 menit. Skor  Hendra/Ahsan atas sesama wakil DKI Jakarta tersebut adalah 21-13, 21-17.

 

Dengan kemenangan tersebut Ahsan merasa sangat bahagia. Ia mengatakan bahwa setelah sekian lama berpisah ia merasa senang duet mereka berhasil  meraih juara. Gelaran tersebut juga menjadi tolok ukur kemampuan mereka serta sejauh mana mereka masih dapat berkompetisi.

 

Hendra sendiri mengakui bahwa juniornya tersebut masih dapat memberikan perlawanan. Sayangnya pada akhir-akhir pertandingan keduanya justru banyak melakukan kesalahan. Tak lupa Hendra pun berpesan pada para pemain muda tersebut bahwa mereka masih membutuhkan banyak pengalaman juga pelajaran yang harus dialami. Para pemain muda sebaiknya tak cepat merasa puas serta tak mudah menyerah dan terus berupaya keras menampilkan performa terbaik.

 

Yang cukup menarik, sebelum laga final tersebut Hendra juga sempat berpesan agar para juniornya yang memang berselisih umur cukup jauh dengan dirinya dan Ahsan tersebut bisa bermain lepas, tanpa perlu sungkan melawan mereka. Ia juga memastikan bahwa dirinya dan Ahsan akan menyajikan aksi fight pada pertandingan tersebut.

 

Duet legendaries pasangan Hendra/Ahsan

Beberapa tahun yang lalu kedua atlet tersebut pernah menjadi pasangan ganda putra yang paling ditakuti pasca sukses merebut gelar juara dunia di tahun 2013 dan 2015. Setelah berpisah, Hendra keluar dari Pelatnas dan lebih sering beraksi bersama pemain Malaysia. Sementara Ahsan masih bertahan di Pelatnas dan berganti rekan duet bersama Rian Agung Saputro.

 

Masa depan Hendra dan Ahsan pada dunia Bulu Tangkis

Setelah laga tersebut ternyata banyak yang bertanya-tanya rencana mereka di tahun depan. Keduanya pun terlihat kompak tak memberikan kepastian. Ahsan mengatakan bahwa ia belum mengetahui bagaimana rencana bandar Poker Online ke depan. Yang jelas keduanya ingin beristirahat dulu pasca penampilannya tersebut pada sisa akhir tahun ini. Sementara untuk tahun depan Ahsan lebih memilih untuk menunggu instruksi pelatih.

 

Sedangkan Hendra tak berniat berandai-andai tentang peluang memperoleh panggilan lagi dari pelatnas bulu tangkis. Ia juga mengatakan bahwa ia akan mencoba memikirkannya lagi seandainya benar dipanggil kembali ke Pelatnas. Tetapi ia mengaku bahwa sejauh ini belum ada pembicaraan apa pun antara dirinya dengan pihak Pelatnas.

 

Share Button
Top

Lilyana Natsir: Pemain Bulutangkis Dunia yang Dimiliki Indonesia

Berhenti sekolah sejak usia 12 tahun tidak membuat seseorang mengalami keterpurukan bahkan Lilyana Natsir mampu membanggakan Indonesia dengan prestasi badminton.

Kebanyakan Anda mungkin hanya mengetahui prestasi dari seorang Lilyana Natsir yang menjadi wanita kedua peraih olimpiade bandar bola untuk cabang bulutangkis setelah legenda tunggal putri Susi Susanti. Banyak mungkin yang mengatakan jika seorang atlet pasti memiliki pendidikan yang sangat tinggi namun faktanya, Butet yang saat ini dikenal sebagai seorang pahlawan wanita di dalam bulutangkis meninggalkan bangku sekolah sejak SD.

_timthumb-project-code-php

Kesuksesan Seorang Lilyana Natsir yang Tak Lepas dari Orang Tua

Pendidikan bukan menjadi sebuah halangan bagi seseorang untuk menjadi sukses meskipun memiliki pendidikan berarti membuka peluang kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, Lilyana Natsir mampu menunjukkan seseorang yang tidak mempunyai pendidikan tinggi tetap bisa berprestasi dan juga sukses bahkan membanggakan Indonesia di mata dunia. Namun keputusan Butet untuk meninggalkan sekolah ini bukan diambil dengan mudah sebab dirinya harus dihadapkan oleh dua pilihan yang berat. Sekolah atau bulutangkis? Menurut Butet seperti yang dilansir oleh BBC Indonesia, seseorang harus fokus pada salah satu hal dan keputusan ini pun dipikirkan matang.

Ada beberapa hal yang dijadikan sebagai dasar dari keputusannya untuk tidak mengambil pendidikan formal kembali adalah nilai olahraga yang terdapat di dalam buku rapor sekolah. Sejak kecil Butet memang memiliki bakat di dunia olahraga dan hal ini terbukti dari seluruh cabang olahraga yang berada di rapornya mulai dari lari, basket dan lainnya bernilai sembilan. Hal lainnya adalah berbagai macam prestasi yang diperolehnya di luar sekolah dan hal itu terdapat pada cabang bulutangkis. Ketika keputusan ini diambil, orang tua mungkin masih sedikit berat namun mereka tetap akan mengijinkannya demi kebahagiaan dari sang anak tapi masih ada pula yang menyayangkan itu.

Butet hanya menjawab jika kehidupan itu adalah sebuah pilihan dan manusia harus mau menerima resiko apapun. Banyak pihak yang sangat menyesalkan keputusan aneh dari seorang butet ini mengingat sekolah adalah jalan menuju masa depan. Tetap saja pemain yang memiliki tinggi badan sekitar 168 cm ini tidak peduli dengan kata-kata orang lain itu dan hanya fokus dengan diri sendiri selama orang tua mengijinkan yang terbaik. Saat ini Butet sangat dikenal sebagai pemain spesiali ganda campuran. Namun di dalam prakteknya, Butet juga pernah masuk ke dalam kelompok ganda putri dan dipasangkan oleh Vita Marissa namun pelatihnya menyarankanya menuju ganda campuran.

Pemain Ganda Campuran Terkena: Lilyana Natsir

Pelatih Butet kala itu adalah salah satu mantan pemain ganda putra yang terkenal dan sangat melegenda yaitu Richard Mainaky dan pelatihnya itulah yang akhirnya menawarkan dirinya bermain di ganda campuran yaitu dengan Nova Widianto dan mereka pun mulai digandengkan bersama sejak tahun 2004. Keputusan dari pelatih sebelumnya akhirnya memberikan hasil yang terbaik dimana mereka langsung dapat prestasi yang membanggakan tepat setelah dipasangkan menjadi satu yaitu dengan meraih juara gandar campuran yang digelar di Amerika Serikat tahun 2009. Kemudian beranjak menuju tahun 2007, mereka pun memenangkan ganda camnpuran di wilayah Malaysia.

Di dalama pagelaran ini, kebangaan tersendiri jugta muncul mengingat ganda campuran Indonesia ini justru mampu diperoleh ketika mereka megalahkan pasangan terbaik dunia lainnya yaitu Zheng Bo dan Gao Ling. Sontak saja jika akhirnya kedua pasangan campuran ini ditakuti oleh dunia dan tidak pernah terkalahkan ketika mereka menjalani Sea Games togel sgp. Emas Sea Games pun berhasil di peroleh dari perjuangan yang sangat ketat setelah itu nova pun pensiun dari dunia bulutangkis. Dengan pasangan barunya ini, mereka selalu membuat prestasi menari baik itu grand prix atau siper series.

Akan tetapi, mengingat Lilyana Natsir sudah tidak terlalu muda lagi, maka sebaiknya Indonesia mulai menunjuk pemain baru sebagai referensi dan wajah pun akan tetap menjadi muda.

Share Button
Top